Kamis, 07 Juni 2012

myonyx, my love

Ibarat kata, kami memang jodoh. hihiii...

Kejadiannya waktu si Rizki Riani, yang selanjutnya disebut si Adek dalam tulisanku, ke Bali awal bulan lalu. 7 Juni 2012. Aku, si Adek, Vera (Adenya Kaka Ria) , Kaka Ria, dan si AA sama Kang Asep ( sodara n temennya si adek) jalan-jalan ke Tanah Lot. Siang hari yang lumayan terik itu, kami mamotoran bareng dari Badung menuju Tanah Lot. Ikut route tripnya si Adek, AA, n Kang Asep. Hahahaha.. maap ya A, Kang klo salah penyebutan nama. Sampai di Tanah Lot, aku, Kaka Ria, dan Vera cuma duduk di bawah pohon sambil nunggu si Adek, AA, n Kang Asep berfoto dengan keindahan Tanah Lot. Saat itulah kejadiannya, entah bagaimana jatuhnya atau bagaimana aku naruhnya myonyx was gone. Sadarnya pun, ketika kami ingin pindah lokasi foto. Untungnya aku segera sadar, jadi belum jauh untuk segera cari dimana keberadaan myonyx.

Kaka Ria dengan sigap langsung menghubungi myonyx. Aku memasang kuping dan mata dengan teliti di sekitaran tempat kami duduk-duduk tadi. Tapi apadaya, tak satupun benda berwarna putih dan berbentuk blackberry tertangkap kedua mataku. Bahkan suaranyapun tak sampai ke kedua kupingku. Panic at Tanah Lot. Kaka Ria pun segera melapor k bagian informasi bahwa telah kehilangan HP sambil tetap menelepon HP ku. Semua orangpun ikut sibuk prihatin. Entah pura-pura atau tidak, tapi aku cukup terhibur dengan perhatian mereka, yang menanyakan "dimana tadi duduk?", "apa yang hilang", dll. Mulai dari pedagang mainan, tukang foto, pedagang post card,dan tukang kebun sekitar.

Sekitar setengah jam aku muter-muter wilayah sekitar, bahkan Kaka Ria sudah jauuuuh mencari sampai ke tempat parkir. Barangkali ada yang bawa HP ku. Akhirnya kami menyerah, karena pada akhirnya myonyx off. Hiks, hopeless. HP mati, mau dicari kemana lagi. Akupun melapor ke bagian informasi, dan meninggalkan kontak. Yaa setidaknya bagian informasi kasih sedikit harapan, jika HP tersebut ditemukan akan segera dihubungi ke kontak yang aku tinggalkan.

Si Adek dan dua rekannya pun sudah selesai meng-explore Tanah Lot, tepat setelah aku bersama Vera putus asa mencari myonyx. Dengan langkah terseok-seok aku menuju lokasi parkir. Hemmm sudah hilang tak bisa dihubungi, artinya tak bisa dicari. Akupun tak mau merusak acara liburan Adek. Akhirnya kami merencanakan untuk ke Serangan. Masih sedikit berunding, mendadak Kaka Ria mendapat telepon.

Dagdigdug dengar pembicaraan Kaka Ria yang entah dengan siapa di seberang sana. Ada sedikit harapan, itu bagian informasi Tanah Lot. Dan ternyata Dagdigdug ku berbuah manis sekali. HP ku ditemukan!!! Emmmm lebih tepatnya dikembalikan oleh yang berniat ngambil. Wuaaaa senangnya...

Ternyata, memang belum waktunya kita berpisah ya myonyx. Hiks.. Terharu biru.
Terima Kasih Kaka Ria,Vera, Bli Arik ( bag. Informasi Tanah Lot), dan Ibu yang berani mengembalikan myonyx ku. Legaaaa... perjalananpun dengan riang kami lanjutkan. Hehehheee..

*you still mine, myonyx


Minggu, 03 Juni 2012

Melukat di Tirta Empul

Aku, Adikku, dan Sepupuku, Tu Mery berinisiatif untuk Melukat ke Pura Tirta Empul di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Kebetulan sekali Tu Mery punya waktu luang dan Adikku sedang berlibur ke Bali. Sambil mengisi liburannya dan mengusir penatnya aku.

Sebelumnya dikasih tau dulu aja ya, apaan sih Melukat?
Melukat itu perlambang pembersihan manusia dari hal negatif. Air adalah media untuk membersihkan diri. Dan Air yang kami gunakan berasal dari sumber mata air Tirta Empul.

Lokasi Permandian dan Pura Tirta Empul berada tepat di bawah Istana Kepresidenan Tampak Siring, yang dibangun secara permanen sejak tahun 1957-1963 atas prakarsa Presiden Soekarno.

Dengan bermodalkan niat, ketulusan, dan banten (sajen) kami meluncur ke Pura Tirta Empul di sore yang cerah itu. Kurang lebih sekitar satu jam perjalanan kami dari Sanur menuju Tirta Empul tanpa ada kemacetan. Sampai di Tirta Empul kami harus cek dan ricek dulu bawaan kami. Tak hanya Banten, tapi juga baju ganti. Sudah lengkap segera melangkah menuju lokasi pemandian.



Suasana pemandian saat itu masih belum begitu ramai. Kami bersembahyang dulu sebelum menceburkan diri ke pemandian. Aku dan Mery giliran pertama untuk melukat. Biar ada yang poto-potoin. Hehheee..


Nah, suasana saat itu masih sepi terlihat di kolam pemandian pun masih sedikit antriannya.
 
 


Prosesi kami saat melukat dan tetap berpose. hehehee... Yaa harus berpose, untuk lupain dinginnya air di sana. Dingiiiiiiiin sekali.. brrrr...

Selesai kami yang melukat, sekarang giliran Ade ku. Hari pun semakin malam, air semakin dingin, tapi semakin ramai orang-orang yang menceburkan dirinya ke kolam.




Tuh, terlihatkan. Hari sudah malam, lampu-lampu sudah nyala. Tapi malah semakin banyak orang yang datang melukat. Padahal udara dan air semakin terasa dingin.






Demikianlah kami melukat dengan sumber air dari Tirta Empul. Setelah melukat dengan air pancuran dari Tirta Empul dan berganti baju, kami segera melakukan persembahyangan ke Pura. Persembahyangan bersama, sebagai wujud rasa terima kasih dan rasa syukur kami kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Selesai persembahyangan, badan terasa ringan, pikiran rasanya jernih, hati rasanya tenang sekali. Dan tentu rasa ini kami ekspresikan ke dalam kamera lagi.



Perut kami pun minta tolong untuk diisikan makanan. Mumpung masih di daerah Ubud, kami melajukan mobil ke sebuah warung iga yang cukup fenomenal.



Yup! Kami meluncur ke Nuri's. Tentu karena penasaran dengan rumor Pork Ribs yang rasanya luar biasa enak. Layaknya masuk warteg Bule. Karena suasananya yang kayak warung tapi klasik dan pelanggannya yang semua orang asing.

Dan ini menu kami!!!




Selamat Makaaaaaaan!!!!!